Non Contact Handsanitizer Spray Dispenser (n-cHSD) V1

Inovasi Sains dan Teknologi Mahasiswa Fisika UIN Jakarta Kembangkan Sebuah Alat yang membantu masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19

Gambar. Alat Non-Contact Handsanitizer Spray Dispenser (NC-HSD) V1  

FST News (15/06). Sejak temuan pertama kasus pasien positif COVID-19 di Indonesia pada awal bulan Maret lalu. Jumlah kasus pasien positif COVID-19 terus bertambah setiap harinya hingga saat ini. Kecemasan masyrakat akan kurva penambahan kasus positif COVID 19 yang kunjung masih belum melandai, memacu pentingnya peran di bidang inovasi dan teknologi sebagai upaya menekan laju kurva kasus penambahan positif COVID-19 di Indonesia.

Dalam membangun optimisme masyarakat dalam menghadapi COVID-19, dibutuhkan peran andil baik itu pemerintah, industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian pengembangan pengkajian dan penerapan (litbangjirap), maupun masyarakat. Hal inilah yang mendorong Akbar Ramadhani dan Dimas Alifta sebagai mahasiswa semester 6, Fisika Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta untuk mengembangkan sebuah alat sensor yang bernama Non-Contact Handsanitizer Spray Dispenser (n-cHSD) V1.

Non Contact Handsanitizer Spray Dispenser (n-cHSD) V1 merupakan sebuah alat yang berfungsi sebagai handsanitizer pada umumnya yaitu sebagai pencegah penyebaran virus pada tangan. Namun yang berbeda, alat tersebut dapat berfungsi tanpa adanya sentuhan tangan sehingga lebih efisien dibandingkan dengan handsanitizer umumnya yang dapat tersentuh oleh banyak orang. Ide alat ini digarap  dari sebuah konsep alat pengharum ruangan yang dapat dioperasikan secara otomatis.

Proses Pembuatan di Masa Pandemi

Proses pembuatan alat ini cukup memakan waktu lama selama dua bulan. Beberapa factor yang menjadi kendala menurut Akbar, “Sebenarnya jika dikerjakan saat kondisi normal proses pembuatannya hanya memakan dua minggu saja, Namun ditengah pembuatan mengalami berbagai kendala seperti,  keterbatasan akses untuk membeli komponen bahannya, sehingga pembelian bahan dilakukan secara online. Perkuliahan yang berlangsung jarak jauh membuat untuk jarang bertemu. Dan  tidak lupa  kewajiban sebagai mahasiswa juga untuk dapat  menyelesaikan tugas perkuliahannya di masa pandemic.”. ujarnya saat diwawancarai melalui google meet, Minggu (07/06/2020).

Dalam pembuatan alat ini bekerjasama dengan  UwU industries untuk membantu dalam proses 3D printing design. Pada alat ini menggunakan sebuah bahan yang  terbuat dari PLA (PolyLactic Acid). PLA adalah sejenis polimer atau plastik yang bersifat biodegradable, thermoplastic dan merupakan poliester alifatik yang terbuat dari bahan-bahan terbarukan, Sehingga aman dan tidak beracun

Prinsip Kerja dan Cara Pengoperasian

Non Contact Handsanitizer Spray Dispenser (n-cHSD) V1 menggunakan mikrokontroller Arduino yang sudah terintegrasi dengan sensor ultrasonik dan motor servo. Alat ini dikontrol dengan menggunakan arduino sebagai pengendali utama dan menggunakan sensor ultrasonik sebagai pendeteksi keberadaan object atau anggota tubuh manusia (tangan) dalam jarak tertentu. Sinyal dari sensor tersebut akan di teruskan ke arduino untuk mengaktifkan motor servo yang akan bekerja untuk menekan botol handsanitizer. Pada alat ini menggunakan jenis handsanitizer cair. Pengoperasian dari alat ini cukup mudah tidak perlu ditekan seperti biasanya. Cukup dengan meletakan tangan kita pada jarak 5-10cm maka botol handsanitizer akan secara otomatis mengeluarkan spray dari mulut handsanitizer.

Rencana Kedepan dan Harapan dari Pembuatan Alat ini.

Keunggulan dari n-cHSD V1 dapat digunakan lebih efesien tanpa harus menyentuh dalam penggunaan handsanitizer. Selain itu menurut Dimas, “Seperti yang kita tahu di luar negeri sudah ada alat dengan konsep seperti ini ya, namun masih dikemas dengan kabel yang terlihat dan menumpuk. Oleh karena itu, kami berusaha mengembangkan alat ini menjadi terlihat lebih simple. Karena mungkin sebagian masyarakat kan takut kesetrum kalau melihat kabel yang banyak dan menumpuk, sehingga kami mencoba membuat desain alat yang lebih aman dan nyaman untuk masyarakat”. Kelemahan dari alat ini adalah masih menggunakan baterai 18650 yang sudah terpakai dan hanya dapat berlangsung selama 3 hari saja. Lewat dari pemakaian itu maka baterai harus kembali di charge.

Rencana kedepan dari n-cHSD V1 akan dikembangkan ke dalam tahap produksi ke-2 (V2) dengan menambahkan supply daya menjadi dua baterai 18650 baru dan juga dihubungkan dengan supply adaptor DC 6 volt. Pada tahap produksi ke-2 juga akan di desain ulang dengan mengunakan bahan komponen yang lebih bagus. Sehingga pada n-cHSD V1 selanjutnya tidak memiliki daya yang boros dan dapat dipakai dengan ama serta nyaman oleh masyarakat.

Besar harapannya pada tahap produksi alat ke-2 adalah dapat diproduksikan secara massal oleh pihak Universitas, mahasiswa fisika UIN Jakarta lain maupun kerjasama dengan sebuah perusahaan indsutri. Sehingga alat ini dapat dipergunakan di lingkungan Univeristas dan juga dapat disebarluaskan ke daerah-daerah terpencil yang rawan terhadap COVID-19. Walaupun kehadiran alat ini tidak sebesar bantuan para  tenaga medis, namun kehadiran alat n-cHSD V1 ini diharapkan dapat menggugah jiwa kreatif, inovatif dan produktif sebagai mahasiswa khususnya mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk ikut berpartisipasi melakukan kontribusi nyata di bidang keilmuannya dalam memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19.

Penulis : Ana Nurhasanah, Mahasiswa Jurusan Fisika UIN Jakarta 2017, Anggota Departemen Kominfo Himpunan Mahasiswa fisika (HIMAFI) UIN Jakarta (red. AN)

Djunaedi Edday

Staf Admin Fakultas Sains dan Teknologi

You may also like...